Rabu, 29 Oktober 2014

Tugas Bahasa Indonesia

Membuat Cerpen





Di Susun Oleh :
Nama                    : Fatiha Meliana Kurniawati
Kelas                    : 9.7
No.Absen              : 10


Ilustrasi
            Masa SMP adalah masa-masa yang terbilang labil. Aku pernah mengalami perasaan galau dan sakit hati. Disini aku mengalami salah satu peristiwa percintaanku yang bertepuk sebelah tangan karena aku memutuskan untuk merelakan seseorang yang kusuka untuk sahabat terbaikku, dan dalam akhir perjalanan kisahku ini aku harus bisa MOVE ON dari seseorang yang kusuka dan kusayang. Memang berat untuk merelakannya, tetapi aku belajar untuk ikhlas dan berkorban demi seorang teman baikku.

Cinta yang Tak Sampai


            Cinta, aku benci kata-kata itu. Terlalu sering aku sakit karena cinta. Apakah salah jika aku ingin bahagia karena cinta? Sepertinya cinta belum memberikan aku kesempatan untuk bahagia karenanya. Setelah sekian lama aku berusaha untuk menjaga hati ini agar tidak jatuh dan sakit lagi karenanya, namun apa mau dikata, lagi-lagi aku jatuh dan harus merasakan sakit untuk sekian kalinya.
            Banyak teman yang mengingatkanku, agar jangan bermain-main dengan perasaan hati, itu akan membuatku kembali sakit. Semua nasehat temanku tak ada yang kudengar, masih saja kucoba bermain perasaan hati, dan benar kini aku merasakan nyesek itu, karena cintaku yang tak terbalas.  Aku banyak mencurahkan perasaanku kepada teman terdekatku yang bernama Amy, dia adalah teman curhatku. Banyak hal yang telah kuceritakan padanya, salah satunya tentang perasaanku yang telah kusimpan pada Ricki.
Ricki, dia adalah orang yang mampu meluluhkan dan mampu membuat diriku merasa bahagia untuk sesaat. Namun, ternyata dia jugalah yang membuat hatiku hancur berkeping-keping, dan kembali sakit untuk kesekian kalinya. Ini memang bukan salahnya, jika aku harus kembali sakit karena bermain perasaan. Sejak awal memang dia tidak pernah menganggapku lebih dari teman. Dia hanya menganggapku sebagai teman dekatnya saja. Kebaikan hati dan sikap ramahnyalah yang membuatku fall in love pada Ricki
***
            Ricki adalah teman SD ku yang hadir kembali saat aku mendafar disalah satu bimbingan belajar. Ternyata dia juga les di sana. Aku memang sedikit lupa dengan wajahnya tetapi yang aku ingat darinya adalah cara dia menatap, tatapannya yang tajam itu membuat hatiku meleleh karenanya. Sehari setelah aku bertemu dengannya, dia mengaadd ku diakun jejaring sosial facebook milikku, tanpa berpikir panjang, aku langsung mengconfirmnya. Sebenarnya, aku sedikit ragu untuk memulai chat  dengannya, tapi kuberanikan diri untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Sesekali dia membalas pesanku. Tetapi lama kelamaan dia mulai mengacangiku. Pernah kutanya dia
            “Kenapa sering ngacangin?” tanyaku sedikit malu.          
            “Hmm maaf, aku jarang ada kuota :D limit duit :v“ balasnya dengan emot khasnya.
            Setelah kutanya hal itu padanya, dia jadi jarang mengacangiku. Waktu demi waktu kulalui, aku sering merasa ngefly karena sikapnya yang memang baik dan perhatian.
***
Beberapa minggu setelah perayaan Idul Fitri, aku sengaja ingin berjabat tangan langsung dengan Ricki di tempat les kami, dan untungnya teman dekatku yang bernama Putri mengajak Ricki bersalaman terlebih dahulu,
            “Jadi aku tak perlu meminta salaman Ricki duluan kan? Kan gengsi,” gumanku merasa lega.
            Dan hasilnya, aku berhasil bersalaman dengannya, dalam hatiku berkata,
            Ughh, tanganku serasa bergetar dan ada keringat dingin bercucuran di dahi cunongku ini!” gumanku lagi.
            Betapa bahagianya aku bisa bersalaman dengan orang yang kusuka untuk kali pertama. Bahkan, sesampainya di rumahpun, aku tak mau mencuci tanganku dan tak henti-hentinya untuk mengelus sambil tersenyum seperti orang tak waras. Sampai-sampai ibuku guman padaku dan bertanya,
            Ngopo to kowe Na?” dengan nada khas Jawanya.
Akupun ganti menjawab, “Hmm? Ngga papa kok bu, tenang aja, Nana masih waras kok” jawabku untuk meyakinkan ibu.
Hari demi hari berganti, selama ini banyak hal yang kulakukan untuk bisa sering bertemu Ricki. Karena kami beda sekolah, kami jarang bertemu. Tetapi karena di tempat bimbingan belajarku ada program yang bernama TST (Tutorial Service Time)  atau fasilitas jam tambahan bagi siswa, aku memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai salah satu bentuk modusku supaya bisa lebih sering bertemu dengan Ricki. Hal itu memang cukup melelahkan dan menyita waktuku. Tetapi, apa boleh buat. Itu satu-satunya cara termudah yang dapat kulakukan untuk bisa bertemu dengannya. Belum lama ini, aku sempat berpapasan dengan Ricki, aku memang sering jaim, tetapi tujuanku itu adalah untuk mencoba apakah dia akan menyapa atau tersenyum padaku atau  tidak sama sekali. Dan dia benar-benar mendengar apa yang saya batinkan (alay). Dia tersenyum dan mengangguk padaku, itu adalah salah satu hal yang membuatku ngefly.
***
Namun, ternyata dia tidak hanya ramah padaku, salah satu buktinya yang membuat jleb moment adalah saat aku meminjam smartphone  milik sahabat dekatku yang bernama Amy. Ketika itu aku terkejut karena ada BBM masuk dari Ricki. Secara diam-diam aku membuka dan membaca semua pesan yang pernah ada. Sepertinya mereka benar-benar akrab. Setelah kuselidiki lebih lanjut, ternyata Amy juga telah menyimpan rasa pada Ricki. Memang tidak ada yang melarang Amy untuk menyukai siapapun,
“Tetapi mengapa harus Ricki yang dia sukai?” batinku seketika.
Setelah aku tau tentang kedekatan Amy dengan Ricki, aku mencoba memberanikan diri untuk menanyakan kepastian hal itu langsung pada Amy.
“My, aku mau nanya sesuatu boleh?” pertanyaan pembuka seperti basa-basi.
“Ya bolehlah Na. Emang mau tanya apa?” Jawab Amy dengan senyumnya.
“Hm, menurutmu Ricki itu termasuk cowok yang kamu impikan apa ngga?” tanyaku ragu.
“Hmm, kalo dibilang iya tapi ngga juga. Gimana ya?” jawabannya seperti sangat bimbang dan ragu.
“Ayolah My, jujur aja sama aku!” tanyaku dengan muka memelas.
“Iya juga sih, dia kan orangnya baik, ramah dan enak diajak ngobrol sih ya, jadi lumayan juga kalo misalnya dia jadi calon pasanganku kelak” Dengan PD nya Amy menjawab pertanyaanku.
“Hmm, gitu ya.” Jawabku lemas.
“Tapi ngga usah khawatir, aku ngga bakal ngrebut Ricki dari kamu kok Na.” Kata Amy dengan sedikit tersenyum.
Tapi sebenarnya bukan jawaban itu yang kuinginkan darinya. Tapi ya sudahlah, aku harus sabar untuk mengajukan pertanyaan lagi di lain waktu.
***
Pada suatu sore, hari dimana aku dijadwalkan les, teman satu kelasku memberi tahu rahasia yang telah diceritakan Amy padanya yaitu tentang perasaannya pada Ricki.
“Na, aku pengen cerita tentang Amy, tapi kamu tolong jaga rahasia ini ya?” ucap Rakhma lirih padaku.
“Memang rahasia apa? Tentang apa? Iya, aku janji tidak akan membocorkan pada siapapun” jawabku meyakinkannya.
“Tapi aku takut kamu bakal kit-ati, Na.” dengan wajah memelas khas miliknya, Rakhma melanjutkan kalimatnya tadi.
“Ngga papa kok”, kataku mencoba meyakinkan Rakhma kembali.
 Rakhma pun mencoba percaya dan menceritakan rahasia tadi,
“Na, sebenernya tuh Amy suka sama Ricki oh..”
Seketika itu juga, tubuhku melemas yang semula aku semangat karena penyakit kepomaniaku bisa terjawab.
“Apa?!!” Jawabku shock.
“Iya, Amy sebenernya udah suka sama Ricki semenjak kamu banyak cerita tentang Ricky padanya.” Kata Rakhma mencoba menerangkan kepadaku.
Tiba-tiba, perasaanku benar-benar kaget dan agak tidak yakin.
“Tapi yang benar saja? Amy? Orang yang selama ini aku percaya untuk menyimpan semua rahasiaku? Ternyata malah makan sahabat sendiri?”, jawabku tanpa sadar.
“Ya tapi memang itu kenyataannya, dan maaf juga mungkin pengakuan dariku ini akan jauh membuatmu kesal, kecewa, bahkan marah pada Amy. Tapi tolong banget Na, aku pesen sama kamu, selesaikan dengan kepala dingin dan jangan sampai musuhan” pesan Rakhma untukku.
“Ya Ma, akan aku coba semua nasehat darimu itu selagi aku bisa.” Jawabku.
Setelah aku mendapat pengakuan yang mengejutkan itu dari Rakhma, tingkah lakuku kepada Amy menjadi berbeda. Memang aku tidak memasang wajah marah padanya, tetapi hanya sikap dingin dan sedikit cuek. Lama-lama, dia mulai peka terhadap sikapku yang berubah kepadanya. Dan ia pun sering bertanya-tanya kepada teman teman terdekatku maupun yang sekelas denganku. Amy mengajak teman-teman terdekatku berkumpul saat jam pelajaran telah usai di tempat biasa kita bersama, yaitu di dekat kelas IX.8 tanpa sepengetahuanku.
“Hm, kalian ngerasa nggak sih, kalo Nana akhir-akhir ini keliatan beda?” tanya Amy pada Widya, teman sekelasku dulu.
“Ah, masa sih? Kayanya biasa aja deh” jawab Widya berusaha mengelak.
“Apa kamu nggak ngerasa? Dia itu sekarang lebih sering diem, nglemun, terus kalo diajak ngomong kadang ngga nyambung tau!” jelasnya.
“My, sebenernya, Nana tuh udah tau rahasia yang kamu sembunyikan darinya, tentang perasaanmu pada Ricki” Tyo langsung menyambar dan mencoba menjelaskan.
“Tuh kan bener dugaannya aku, sekarang aku mesti gimana leh? Aku bingung keh!” kata Amy dengan wajah cemas.
“Yaudah lah My, mending lu sekarang atau kapan gitu bilang terus terang sama Nana dan buat pengakuan yang sebenernya tentang perasaanmu ke Ricki aja” seru Rakhma dengan muka cuek tak bersalahnya.
“Iya bener kata Rakhma, coba kamu omongin itu baik-baik sama Nana, siapa tahu dia bakal terima penjelasan kamu.” Lanjut Citra.
“Apa aku bisa? Dan apa kalian yakin kalo Nana bakal menerima penjelasan dan kata maafku nanti?” jawab Amy dengan keraguannya.
“Ya kan bisa aja, ngga ada salahnya untuk mencoba keles, coba dulu wis, baru kamu berkomentar” Tyo mencoba lebih meyakinkan Amy.
“Ya syudahlah, aku bakal nyoba! Tapi kalian jangan ngomong apa-apa dulu ke Nana yaw?! Oke!” kata Amy mulai percaya diri.
“Oke!” jawab serentak mereka berempat.
***
Kemudian, malam harinya Amy mengechat diakun fb ku,
 “Na”
Lalu kubalas “Ya? Kenapa My?”
Kemudian dia menjelaskan panjang lebar sehingga menjadi luas (etdah, berasa rumus matematika banget). Aku sebenarnya kagum dengan sikap keberanian Amy berterus terang padaku walau memang itu berat, emang sih tujuan utama dia menyembunyikan rahasia nya itu adalah untuk menjaga perasaanku, tapi kan kenapa harus gini loh..
 “Kenapa kamu ngga pernah jujur sama aku sih My? Aku tau tujuan kamu itu baik, tapi kalo aku tau semua rahasia yang kamu umpetin dariku itu lewat mulut seseorang, apa itu ngga lebih nyesek?!!” jawabku lewat chat fb ku.
“Iya, aku juga tau itu Na, kalo aku jadi kamu juga aku bakal nyesek dan marahnya kaya apa banget oh. Tapi terserah kamu, kamu mau maafin aku apa enggak, yang penting aku udah berusaha jujur dan udah ngga ada yang aku tutupi lagi darimu Na.” Jelasnya.
Agak lama, chat darinya hanya ku read, kubiarkan sejenak karna air mataku mulai menetes dengan sendirinya. Kemudian dia mengechatku lagi,
“Na?!” sambil mengagetkanku.
Sesegera mungkin aku membalas pesanku “Ya, maaf aku tadi habis ke belakang” elakku mencoba meyakinkan Amy.
“Yaya, aku mungkin bisa maafin kamu My, tapi maafjuga atas sikapku akhir-akhir ini yang terlihat lebih kasar kepadamu. Aku yakin kamu tahu hal itu kan? Aku bertingkah seperti utu mungkin secara reflek saja. Jadi aku juga minta maaf.” Kataku.
Walau aku bisa memaafkan Amy, tapi rasanya kekecewaan itu masih saja ada dalam hatiku, entahlah kenapa. Sesekali jika kulihat mereka tengah asyik berBBMan pada saat aku dan teman-teman berkumpul bersama, rasanya itu nyesek banget. Tapi apa boleh dikata, mereka memang dari awal dekat, karena Ricki mempunyai akun BBM yang always on, sehingga komunikasi antar keduanya tidak terputus, bahkan setiap salah satu dari mereka akan melakukan aktivitas, pasti akan mengabari satu sama lain. Memang terasa sakit dan nyesek melihatnya, tak jarang aku mengangis didalam kamar jika mengingat kejadian tentang mereka. Tapi satu persatu pikiran negatifku terhadap mereka kuhapus secara perlahan walaupun sebenarnya itu sulit. Meskipun memang sih Ricki juga hanya menganggap Amy itu teman, “Tapi daripada aku kit ati & nyesek mulu! Mending aku MOVE ON!!” kataku dalam hati mencoba meyakinkan diriku sendiri.
***
Beberapa hari kemudian, aku memang  masih sering menangis dan melamun. Tapi pernah kutanya salah satu teman sekelasku yang senasib juga denganku.
“Sari, aku boleh numpang curhat dikit boleh??”
“Boleh Na, mau curhat tentang apa? Bilang aja, siapa tau aku bisa bantu kasih saran buat kamu.” Ucapnya yang berusaha meyakinkanku.
“Aku juga mau tanya sih, kalo curhat tah kayanya kamu udah tau problem yang kupunya deh..” kataku sedikit malu.
“Hahaha, iya iya aku tau problem yang kamu mau omongin kok, pasti tentang Ricki kan?” Berusaha menebak pikiranku.
“Iya sih.”
“Tuh kan bener tebakkanku!” dengan bangganya dia tersenyum padaku.
“Aku mau tanya, kamu kan pernah sakit hati kan? Cara kamu untuk cepet move on gimana?” Tanyaku lirih.
“Iyo, dulu aku emang pernah sakit hati dan galau gara-gara cowok yang kusuka malh suka cewek lain. Awalnya emang nyesek, nyesek banget malah. Dulu nggak jarang aku nangis dan galau kaya kamu gini. Tapi aku berusaha menyikapi dengan sifat dewasa. Lama-lama aku udah terbiasa dengan keadaan. Aku sih berpikir mending lupain daripada nyesek terus-terusan.” Cetusnya seperti berceramah.
“Ooh, jadi gitu.” Hanya kujawab singkat.
***
Dengan aku menuruti semua nasehat dari teman-temanku, aku sudah mulai terbiasa dengan apa yang mereka lakukan. Dengan sering melihat apa yang dilakukan Amy dan Ricki, lama kelamaan semua yang kurasa membuatku sakit hati dan nyesek, malah membuatku semakin cepat untuk move on dari Ricki, memang awal mulanya sakit dan berat, tapi kubulatkan tekadku untuk melupakan semua yang pernah terjadi antara aku, Amy dan Ricki. Dengan semua kejadian itu, aku jadi bisa belajar untuk lebih berhati-hati tentang perasaan hati yang biasa disebut CINTA ..... Cinta memang manis diawal, tapi tak jarang juga berakhir pahit. Jadi, kesimpulan dan hikmah yang bisa kudapat dari pengalaman cintaku kali ini adalah lebih baik merelakan dan melupakan daripada harus terus bertahan tetapi hanya membuat penyakit hati yang berkepanjangan.
Get well soon my heart J







Sekian dan Terima Kasih
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat maupun tokoh.
Saya tidak bermaksud untuk menyinggung maupun menyakiti perasaan siapapun.



(:  SELESAI J :)

Tidak ada komentar: