Tugas Bahasa Indonesia
Membuat
Cerpen
Di Susun Oleh :
Nama : Fatiha Meliana Kurniawati
Kelas : 9.7
No.Absen : 10
Ilustrasi
Masa
SMP adalah masa-masa yang terbilang labil. Aku pernah mengalami perasaan galau
dan sakit hati. Disini aku mengalami salah satu peristiwa percintaanku yang
bertepuk sebelah tangan karena aku memutuskan untuk merelakan seseorang yang
kusuka untuk sahabat terbaikku, dan dalam akhir perjalanan kisahku ini aku
harus bisa MOVE ON dari seseorang
yang kusuka dan kusayang. Memang berat untuk merelakannya, tetapi aku belajar
untuk ikhlas dan berkorban demi seorang teman baikku.
Cinta yang Tak Sampai
Cinta,
aku benci kata-kata itu. Terlalu sering aku sakit karena cinta. Apakah salah
jika aku ingin bahagia karena cinta? Sepertinya cinta belum memberikan aku
kesempatan untuk bahagia karenanya. Setelah sekian lama aku berusaha untuk
menjaga hati ini agar tidak jatuh dan sakit lagi karenanya, namun apa mau
dikata, lagi-lagi aku jatuh dan harus merasakan sakit untuk sekian kalinya.
Banyak teman yang mengingatkanku,
agar jangan bermain-main dengan perasaan hati, itu akan membuatku kembali
sakit. Semua nasehat temanku tak ada yang kudengar, masih saja kucoba bermain
perasaan hati, dan benar kini aku merasakan nyesek
itu, karena cintaku yang tak terbalas.
Aku banyak mencurahkan perasaanku kepada teman terdekatku yang bernama
Amy, dia adalah teman curhatku. Banyak hal yang telah kuceritakan padanya,
salah satunya tentang perasaanku yang telah kusimpan pada Ricki.
Ricki, dia adalah orang yang mampu meluluhkan dan mampu
membuat diriku merasa bahagia untuk sesaat. Namun, ternyata dia jugalah yang
membuat hatiku hancur berkeping-keping, dan kembali sakit untuk kesekian
kalinya. Ini memang bukan salahnya, jika aku harus kembali sakit karena bermain
perasaan. Sejak awal memang dia tidak pernah menganggapku lebih dari teman. Dia
hanya menganggapku sebagai teman dekatnya saja. Kebaikan hati dan sikap
ramahnyalah yang membuatku fall in love pada
Ricki
***
Ricki adalah teman SD ku yang hadir kembali
saat aku mendafar disalah satu bimbingan belajar. Ternyata dia juga les di
sana. Aku memang sedikit lupa dengan wajahnya tetapi yang aku ingat darinya
adalah cara dia menatap, tatapannya yang tajam itu membuat hatiku meleleh
karenanya. Sehari setelah aku bertemu dengannya, dia mengaadd ku diakun jejaring sosial facebook milikku, tanpa berpikir
panjang, aku langsung mengconfirmnya.
Sebenarnya, aku sedikit ragu untuk memulai chat
dengannya, tapi kuberanikan diri
untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Sesekali dia membalas pesanku. Tetapi
lama kelamaan dia mulai mengacangiku.
Pernah kutanya dia
“Kenapa sering ngacangin?” tanyaku sedikit malu.
“Hmm maaf, aku jarang ada kuota :D limit duit :v“ balasnya dengan emot khasnya.
Setelah kutanya hal itu padanya, dia
jadi jarang mengacangiku. Waktu demi
waktu kulalui, aku sering merasa ngefly karena
sikapnya yang memang baik dan perhatian.
***
Beberapa minggu setelah perayaan Idul Fitri, aku sengaja ingin
berjabat tangan langsung dengan Ricki di tempat les kami, dan untungnya teman
dekatku yang bernama Putri mengajak Ricki bersalaman terlebih dahulu,
“Jadi aku tak perlu meminta salaman
Ricki duluan kan? Kan gengsi,” gumanku merasa
lega.
Dan hasilnya, aku berhasil
bersalaman dengannya, dalam hatiku berkata,
“Ughh, tanganku serasa bergetar dan ada
keringat dingin bercucuran di dahi cunongku
ini!” gumanku lagi.
Betapa bahagianya aku bisa
bersalaman dengan orang yang kusuka untuk kali pertama. Bahkan, sesampainya di
rumahpun, aku tak mau mencuci tanganku dan tak henti-hentinya untuk mengelus
sambil tersenyum seperti orang tak waras. Sampai-sampai ibuku guman padaku dan
bertanya,
“Ngopo
to kowe Na?”
dengan nada khas Jawanya.
Akupun ganti menjawab, “Hmm? Ngga papa kok bu, tenang aja, Nana masih waras kok” jawabku untuk meyakinkan ibu.
Hari demi hari berganti, selama ini banyak hal yang kulakukan
untuk bisa sering bertemu Ricki. Karena kami beda sekolah, kami jarang bertemu.
Tetapi karena di tempat bimbingan belajarku ada program yang bernama TST (Tutorial Service Time) atau fasilitas jam tambahan bagi siswa, aku memanfaatkan
fasilitas tersebut sebagai salah satu bentuk modusku
supaya bisa lebih sering bertemu dengan Ricki.
Hal itu memang cukup melelahkan dan menyita
waktuku. Tetapi, apa
boleh buat. Itu satu-satunya cara termudah yang dapat kulakukan untuk bisa bertemu dengannya. Belum
lama ini, aku sempat berpapasan dengan Ricki, aku memang sering jaim, tetapi
tujuanku itu adalah untuk mencoba apakah dia akan menyapa atau tersenyum padaku
atau tidak sama sekali. Dan dia
benar-benar mendengar apa yang saya batinkan (alay). Dia tersenyum dan mengangguk padaku, itu adalah salah satu
hal yang membuatku ngefly.
***
Namun, ternyata dia tidak hanya ramah padaku, salah satu
buktinya yang membuat jleb moment
adalah saat aku meminjam smartphone milik sahabat dekatku yang bernama Amy. Ketika
itu aku terkejut karena ada BBM masuk
dari Ricki. Secara diam-diam aku membuka dan membaca semua pesan yang pernah
ada. Sepertinya mereka benar-benar akrab. Setelah kuselidiki lebih lanjut,
ternyata Amy juga telah menyimpan rasa pada Ricki. Memang tidak ada yang
melarang Amy untuk menyukai siapapun,
“Tetapi mengapa harus Ricki yang dia sukai?” batinku seketika.
Setelah aku tau tentang kedekatan Amy dengan Ricki, aku
mencoba memberanikan diri untuk menanyakan kepastian hal itu langsung pada Amy.
“My, aku mau nanya sesuatu boleh?” pertanyaan pembuka seperti
basa-basi.
“Ya bolehlah Na. Emang
mau tanya apa?” Jawab Amy
dengan senyumnya.
“Hm, menurutmu Ricki itu termasuk cowok yang kamu impikan apa
ngga?” tanyaku ragu.
“Hmm, kalo dibilang iya tapi ngga juga. Gimana ya?” jawabannya
seperti sangat bimbang dan ragu.
“Ayolah My, jujur aja sama aku!” tanyaku dengan muka memelas.
“Iya juga sih, dia kan orangnya baik, ramah dan enak diajak
ngobrol sih ya, jadi lumayan juga kalo misalnya dia jadi calon pasanganku kelak” Dengan PD nya Amy menjawab
pertanyaanku.
“Hmm, gitu ya.” Jawabku lemas.
“Tapi ngga usah khawatir, aku ngga bakal ngrebut Ricki dari
kamu kok Na.” Kata Amy dengan sedikit tersenyum.
Tapi sebenarnya bukan jawaban itu yang
kuinginkan darinya. Tapi ya
sudahlah, aku harus sabar untuk mengajukan pertanyaan lagi di
lain waktu.
***
Pada suatu
sore, hari dimana aku dijadwalkan les, teman satu kelasku memberi tahu rahasia
yang telah diceritakan Amy padanya yaitu tentang perasaannya pada Ricki.
“Na, aku
pengen cerita tentang Amy, tapi kamu
tolong jaga rahasia ini ya?” ucap Rakhma lirih padaku.
“Memang
rahasia apa? Tentang apa? Iya, aku janji tidak akan membocorkan pada siapapun”
jawabku meyakinkannya.
“Tapi aku
takut kamu bakal kit-ati, Na.” dengan wajah memelas khas miliknya, Rakhma melanjutkan
kalimatnya tadi.
“Ngga papa
kok”, kataku mencoba meyakinkan Rakhma kembali.
Rakhma pun mencoba percaya dan menceritakan
rahasia tadi,
“Na,
sebenernya tuh Amy suka sama Ricki oh..”
Seketika itu
juga, tubuhku melemas yang semula aku semangat karena penyakit kepomaniaku bisa terjawab.
“Apa?!!”
Jawabku shock.
“Iya, Amy sebenernya
udah suka sama Ricki semenjak kamu banyak cerita tentang Ricky padanya.” Kata
Rakhma mencoba menerangkan kepadaku.
Tiba-tiba, perasaanku benar-benar kaget dan agak tidak yakin.
“Tapi yang
benar saja? Amy? Orang yang selama ini aku percaya untuk menyimpan semua
rahasiaku? Ternyata malah makan sahabat sendiri?”, jawabku tanpa sadar.
“Ya tapi
memang itu kenyataannya, dan maaf juga mungkin pengakuan dariku ini akan jauh
membuatmu kesal, kecewa, bahkan marah pada Amy. Tapi tolong banget Na, aku
pesen sama kamu, selesaikan dengan kepala dingin dan jangan sampai musuhan”
pesan Rakhma untukku.
“Ya Ma, akan
aku coba semua nasehat darimu itu selagi aku bisa.” Jawabku.
Setelah aku
mendapat pengakuan yang mengejutkan itu dari Rakhma, tingkah lakuku kepada Amy
menjadi berbeda. Memang aku tidak memasang wajah marah padanya, tetapi hanya
sikap dingin dan sedikit cuek. Lama-lama, dia mulai peka terhadap sikapku yang berubah kepadanya. Dan ia pun sering
bertanya-tanya kepada teman teman terdekatku maupun yang sekelas denganku. Amy
mengajak teman-teman terdekatku berkumpul saat jam pelajaran telah usai di
tempat biasa kita bersama, yaitu di dekat kelas IX.8 tanpa sepengetahuanku.
“Hm, kalian
ngerasa nggak sih, kalo Nana akhir-akhir ini keliatan beda?” tanya Amy pada
Widya, teman sekelasku dulu.
“Ah, masa
sih? Kayanya biasa aja deh” jawab Widya berusaha mengelak.
“Apa kamu
nggak ngerasa? Dia itu sekarang lebih sering diem, nglemun, terus kalo diajak ngomong kadang ngga nyambung tau!”
jelasnya.
“My,
sebenernya, Nana tuh udah tau rahasia
yang kamu sembunyikan darinya, tentang perasaanmu pada Ricki” Tyo langsung
menyambar dan mencoba menjelaskan.
“Tuh kan
bener dugaannya aku, sekarang aku mesti gimana leh? Aku bingung keh!”
kata Amy dengan wajah cemas.
“Yaudah lah
My, mending lu sekarang atau kapan gitu bilang
terus terang sama Nana dan buat pengakuan yang sebenernya tentang perasaanmu ke
Ricki aja” seru Rakhma dengan muka cuek tak bersalahnya.
“Iya bener
kata Rakhma, coba kamu omongin itu baik-baik sama Nana, siapa tahu dia bakal terima penjelasan kamu.” Lanjut
Citra.
“Apa aku
bisa? Dan apa kalian yakin kalo Nana bakal menerima penjelasan dan kata
maafku nanti?” jawab Amy dengan keraguannya.
“Ya kan bisa
aja, ngga ada salahnya untuk mencoba keles,
coba dulu wis, baru kamu berkomentar”
Tyo mencoba lebih meyakinkan Amy.
“Ya syudahlah, aku bakal nyoba! Tapi kalian jangan ngomong apa-apa dulu ke Nana yaw?! Oke!” kata Amy mulai percaya diri.
“Oke!” jawab
serentak mereka berempat.
***
Kemudian,
malam harinya Amy mengechat diakun fb ku,
“Na”
Lalu kubalas
“Ya? Kenapa My?”
Kemudian dia
menjelaskan panjang lebar sehingga menjadi luas (etdah, berasa rumus matematika banget). Aku sebenarnya kagum
dengan sikap keberanian Amy berterus terang padaku walau memang itu berat,
emang sih tujuan utama dia menyembunyikan rahasia nya itu adalah untuk menjaga
perasaanku, tapi kan kenapa harus gini loh..
“Kenapa kamu ngga pernah jujur sama aku sih
My? Aku tau tujuan kamu itu baik, tapi kalo aku tau semua rahasia yang kamu umpetin dariku itu lewat mulut
seseorang, apa itu ngga lebih nyesek?!!” jawabku lewat chat fb ku.
“Iya, aku
juga tau itu Na, kalo aku jadi kamu juga aku bakal nyesek dan marahnya kaya apa banget oh. Tapi terserah kamu, kamu
mau maafin aku apa enggak, yang penting aku udah berusaha jujur dan udah ngga
ada yang aku tutupi lagi darimu Na.” Jelasnya.
Agak lama, chat darinya hanya ku read, kubiarkan sejenak karna air mataku
mulai menetes dengan sendirinya. Kemudian dia mengechatku lagi,
“Na?!” sambil
mengagetkanku.
Sesegera
mungkin aku membalas pesanku “Ya, maaf aku tadi habis ke belakang” elakku
mencoba meyakinkan Amy.
“Yaya, aku
mungkin bisa maafin kamu My, tapi maafjuga atas sikapku akhir-akhir ini yang
terlihat lebih kasar kepadamu. Aku yakin kamu tahu hal itu kan? Aku bertingkah
seperti utu mungkin secara reflek saja. Jadi aku juga minta maaf.” Kataku.
Walau aku
bisa memaafkan Amy, tapi rasanya kekecewaan itu masih saja ada dalam hatiku,
entahlah kenapa. Sesekali jika kulihat mereka tengah asyik berBBMan pada saat aku dan teman-teman
berkumpul bersama, rasanya itu nyesek banget.
Tapi apa boleh dikata, mereka memang dari awal dekat, karena Ricki mempunyai
akun BBM yang always on, sehingga komunikasi antar keduanya tidak terputus,
bahkan setiap salah satu dari mereka akan melakukan aktivitas, pasti akan
mengabari satu sama lain. Memang terasa sakit dan nyesek melihatnya, tak jarang aku mengangis didalam kamar jika
mengingat kejadian tentang mereka. Tapi satu persatu pikiran negatifku terhadap
mereka kuhapus secara perlahan walaupun sebenarnya itu sulit. Meskipun memang
sih Ricki juga hanya menganggap Amy itu teman, “Tapi daripada aku kit ati & nyesek mulu! Mending aku MOVE ON!!” kataku dalam hati mencoba
meyakinkan diriku sendiri.
***
Beberapa hari
kemudian, aku memang masih sering
menangis dan melamun. Tapi pernah kutanya salah satu teman sekelasku yang
senasib juga denganku.
“Sari, aku
boleh numpang curhat dikit boleh??”
“Boleh Na,
mau curhat tentang apa? Bilang aja, siapa tau aku bisa bantu kasih saran buat
kamu.” Ucapnya yang berusaha meyakinkanku.
“Aku juga mau
tanya sih, kalo curhat tah kayanya kamu udah tau problem yang kupunya deh..” kataku sedikit malu.
“Hahaha, iya
iya aku tau problem yang kamu mau
omongin kok, pasti tentang Ricki kan?” Berusaha menebak pikiranku.
“Iya sih.”
“Tuh kan
bener tebakkanku!” dengan bangganya dia tersenyum padaku.
“Aku mau
tanya, kamu kan pernah sakit hati kan? Cara kamu untuk cepet move on gimana?” Tanyaku lirih.
“Iyo, dulu
aku emang pernah sakit hati dan galau gara-gara cowok yang kusuka malh suka
cewek lain. Awalnya emang nyesek, nyesek
banget malah. Dulu nggak jarang aku nangis dan galau kaya kamu gini. Tapi aku
berusaha menyikapi dengan sifat dewasa. Lama-lama aku udah terbiasa dengan
keadaan. Aku sih berpikir mending lupain daripada nyesek terus-terusan.” Cetusnya seperti berceramah.
“Ooh, jadi
gitu.” Hanya kujawab singkat.
***
Dengan aku
menuruti semua nasehat dari teman-temanku, aku sudah mulai terbiasa dengan apa
yang mereka lakukan. Dengan sering melihat apa yang dilakukan Amy dan Ricki,
lama kelamaan semua yang kurasa membuatku sakit hati dan nyesek, malah membuatku semakin cepat untuk move on dari Ricki, memang awal mulanya sakit
dan berat, tapi kubulatkan tekadku untuk melupakan semua yang pernah terjadi
antara aku, Amy dan Ricki. Dengan semua kejadian itu, aku jadi bisa belajar
untuk lebih berhati-hati tentang perasaan hati yang biasa disebut CINTA .....
Cinta memang manis diawal, tapi tak jarang juga berakhir pahit. Jadi,
kesimpulan dan hikmah yang bisa kudapat dari pengalaman
cintaku kali ini adalah lebih baik merelakan dan melupakan daripada harus terus
bertahan tetapi hanya membuat penyakit hati yang berkepanjangan.
“Get well soon my heart J”
Sekian dan Terima Kasih
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat maupun tokoh.
Saya tidak bermaksud untuk menyinggung maupun menyakiti
perasaan siapapun.
(: SELESAI J :)



